NEWS
DETAILS
Selasa, 17 Feb 2015 08:45 - Honda Bikers Aceh

 

BANDA ACEH – Tidak banyak yang memahami bahwa hukum cambuk yang diberlakukan di Aceh bukan hanya sebatas hukuman, tapi lebih kepada pembinaan. Bukan hanya kepada warga muslim, hal ini juga perlu disampaikan kepada warga nonmuslim.

Hal ini dikemukakan Walikota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal saat membuka diskusi publik dengan tema ‘Penerapan Syariat Islam di Aceh antara kenyataan, harapan dan tantangan” yang digelar, di Aula lantai IV, gedung A, Balaikota Banda Aceh.

Kata Illiza, dirinya pernah menyampaikan kepada pihak Amerika terkait persoalan cambuk. Hal itu diutarakan saat diundang mempresentasikan konsep Smart City oleh ke Dubes Amerika beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan itu, kata Illiza, dirinya mengatakan bahwa hukum cambuk sejatinya tidak seseram dan mengerikan seperti yang dibayangkan oleh orang-orang diluar Islam.

“Kita kaget ketika penjual miras itu meminta di hukum cambuk, bukan hukum pidana. Alasannya dengan cambuk dia tidak perlu masuk penjara dan masih bisa bekerja untuk menafkahi anak istrinya” beber Illiza di Kedubes Amerika dan diceritakan kembali kepada puluhan peserta diskusi publik yang memenuhi Aula lantai IV, Balaikota.

Lanjut Illiza, ketika sipenjual miras memilih hukum cambuk, tentunya hukum ini merupakan yang terbaik yang dirasakan bagi dirinya daripada hokum kurungan. “Artinya sisi pembinaan lebih terasa daripada sekedar hukuman” ungkap Illiza.

Untuk itu, Illiza mengajak semua pihak yang selama ini menganggap hukum syariat Islam identik dengan kekerasan dan pelanggaran HAM untuk datang ke Aceh dan melihat langsung proses penerapan Syariat Islam di bumi Serambi Mekkah. “Islam itu rahmatallil ‘Alamain bagi semua pemeluk agama” kata Illiza.

Diskusi publik yang diselenggarakan oleh Komite Penguatan Akidah dan Peningkatan Amalan Islam (KPA-PAI) Kota Banda Aceh ini menghadirkan tiga pemateri, yakni, Prof DR Rusydi Ali Muhammad SH MH (Direktur pasca sarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh), Drs Tgk H Karim Syeikh (Ketua MPU Banda Aceh) dan Ustad Masrul Aidi Lc, (ulama muda Banda Aceh).

Peseta diskusi sendiri berasal dari sejumlah elemen masyarakat, mulai dari petinggi Gampong (Desa), unsur pemuda, Mahasiswa, pelajar dan masyarakat lainnya. Turut hadir juga Sekdakota Banda Aceh, Ir Bahagia Dipl SE, para Asisten dan seluruh Kepala SKPD jajaran Pemerintah Kota Banda Aceh.

 

RELATED
NEWS
UPCOMING
EVENTS
TOP 5 NEWS
TWITTER
FACEBOOK