NEWS
DETAILS
Kamis, 09 Jul 2015 13:52 - Honda Bikers Aceh

LEUMANG menjadi salah satu kudapan khas berbuka puasa di Aceh. Cara membuatnya pun khas dan berbeda dengan kue tradisional lainnya.

Makanan yang terbuat dari beras ketan ini serupa dengan pulut, namun dalam ukuran yang lebih besar.

Leumang enak disantap selagi hangat dan dicocol dengan selai yang dibuat khusus sebagai pelengkap. Sesuai bagi lidah mereka yang menyukai citarasa penganan manis dan legit.

Saat ini keberadaan leumang sudah terlebih langka dan hanya dijual di tempat tertentu dan pada saat-saat tertentu pula. Sebut saja pada saat Ramadan tiba. Seperti pemandangan yang terlihat di sisi Jalan Syiah Kuala, Banda Aceh, tepatnya di Simpang Lambaro Skep.

Leumang Wak sudah ada sejak 2003 lalu dan banyak dicari penikmatinya. Hafsah dan keluarga setia menggunakan buluh bambu yang menjadi ciri khas leumang dan memasaknya di atas bara api selama berjam-jam

Membuat Leumang
Leumang menggunakan bahan utama berupa beras ketan atau ubi kayu, gula pasir, garam, dan diguyur dengan santan kental serta sedikit colekan mentega untuk menambah kelezatan rasa.

Guna mendapatkan citarasa sempurna, leumang hanya menggunakan bambu untuk sekali pakai dan dalam kondisi segar. Buluh berukuran besar-kecil itu lantas dipotong tiap ruasnya. Di dalamnya dilapisi dengan daun pisang yang masih muda, juga dalam kondisi segar.

Adonan leumang lalu dimasukkan ke dalam buluh bambu yang sudah beralas daun pisang dan dibakar memakai api besar hingga sekitar empat jam.

Ruas-ruas bambu setinggi sekitar 50 meter dengan diameter 3 – 5 Cm itu mula-mula dijejerkan di samping bara api, lantas dibolak-balik agar matang sempurna.

Leumang yang sudah matang bisa dilihat dari kondisi buluh yang kuning kecoklatan karena terus menerus dijilat api.

“Dalam sehari kami bisa menghabiskan hingga 150-200 ruas bambu. Kami menjual leumang ketan putih, ketan hitam, dan leumangubi,” ujar Hafsah yang dibantu oleh tujuh orang anak, menantu, dan juga cucunya.

Cocolan Selai
Untuk cocolan selai dibuat khusus dengan kompisisi tepung terigu, telur, gula pasir, santan, dan vanili untuk aroma.

Semua bahan-bahan tadi lantas dijadikan satu di dalam wajan lalu dimasak di atas kompor dengan api sedang sambil terus diaduk-aduk.

Proses membuat selai memakan waktu hingga 1 jam. Sesudah adonan mengental dan menebarkan wangi khas, selai pun diangkat.

Hafsah mengatakan dalam sehari ia bisa menghabiskan hingga 30 bambu beras ketan dan 60 butir kelapa untuk santan. Untuk selai menghabiskan hingga 2 Kg tepung dan gula pasir.

Buluh sudah dipesan jauh-jauh hari sebelum Ramadhan. Batang bambu yang berukuran relatif kecil disbanding bamboo kebanyakan itu dipasok dari Kabupaten Pidie dan diangkut dengan truk secara berkala.

Lokasi dan Harga
Keluarga itu sudah mulai memasak leumang sedari pagi. Lalu ketika sore tiba atau sekitar pukul 16.00 WIB membuka lapaknya di Jalan Syiah Kuala, tepatnya di Simpang Lambaro Skep, Banda Aceh.

Tempat ini biasanya tutup pukul 20.00 WIB atau bertepatan dengan pelaksanaan waktu tarawih. Selain menjajakan langsung saban harinya di Bulan Ramadhan, keluarga itu juga menerima pesanan.

Menjelang lebaran, produksi leumang bertambah hingga dua kali lipat. 

Untuk menyantap kelezatan leumang, anda bisa memilih membeli eceran seharga Rp 5.000 –Rp 10.000 per potong, tergantung ukuran.

Bisa juga dengan membeli langsung 1 ruas bambu seharga mulai Rp 50.000 – Rp 80.000, tergantung besaran buluh. Harga tersebut sudah termasuk selai yang hadir sebagai pelengkap.

RELATED
NEWS
UPCOMING
EVENTS
TOP 5 NEWS
TWITTER
FACEBOOK